Adakah kesamaan antara guru sejarah dengan dukun. Oke, guru sejarah sama dukun itu memang berbeda, tapi untuk sekedar info, dukun gue ada yang mirip guru sejarah. Maksud gue guru sejarah gue ada yang mirip dukun. Yang gue maksud mirip bukan mirip secara fisik (serem,bau kemenyan,suka bawa-bawa kris) tapi mirip secara kekuatan.
Guru sejarah gue itu bernama Bu Ismahan. Dia perempuan (ya iyalah), mirip orang Arab (Putih,tinggi,hidung mancung). Menurut gue dia adalah salah satu guru paling modis di sekolah gue. Ya pasti taulah artinya modis, gue lagi males ngejelasin arti dari modis itu apa. Bukan karena gue gak tau, tapi pernah ada yang bilang ke gue kalo gue itu gak modis. Gue malah curhat kan jadinya. Oke kita ke inti permasalahan (permasalahan apa?)
Jadi, kenapa gue bilang Bu Ismahan mirip dukun. Begini ceritanya.
Waktu itu pas gue baru-baru masuk ke kelas 2 SMA. Berhubung gue masuk kelas IPA (ehm), jadi kelas gue ada pelajaran sejarahnya (IPS juga ada kali). Kelas gue ada pelajaran sejarah pada hari senin. Waktu baru pertama Bu Ismahan masuk ke kelas gue, dia langsung menyuruh seluruh murid yang ada di kelas gue untuk menggambar orang, rumah, dan pohon di kertas satu lembar. Gue juga sempet gak tau apa maksudnya menyuruh seluruh murid untuk menggambar orang, rumah, dan pohon. Mungkin dia terobsesi menjadi artis (gak nyambung).
Setelah seluruh murid sudah mengumpulkan kertas satu lembar itu kepada Bu Ismahan, Bu Ismahan langsung melihat dengan cermat satu per satu kertas yang sudah di kumpulkan seluruh murid. Saking cermatnya dia tau ada beberapa kertas yang belum di kasih nama. Ketika dia melihat kertas yang gak di beri nama itu, dia langsung teriak penuh arti ‘Hamba Allah’.
Dia mulai menyebutkan nama murid satu per satu sambil memegangi setumpuk kertas. Di sini lah kekuatan dukun yang gue bilang tadi mulai muncul. Orang pertama yang di sebut namanya itu adalah Hafli (kalo gak salah) temen duduk gue sekarang. Ketika Bu Ismahan melihat kertas milik Hafli, ekspresinya langsung bingung, matanya langsung jereng, tak lama kemudian Bu Ismahan langsung pingsan. Oke, dia gak pingsan, tapi dia langsung lemas melihat gambar yang di buat Hafli. Mungkin Hafli membuat gambar orang yang sedang berpacaran di rumah pohon, terus orang tersebut membuka bajunya, lalu… *sebagian teks hilang.
Setelah Bu Ismahan selesai berolahraga mata, dia langsung membuka mulutnya dan mulai mengeluarkan kata-kata. Dan dia berkata, ‘Hafli, kamu itu terlihat banyak masalah’. Waw, dia bisa langsung tau dengan melihat gambarnya saja. Hafli menanggapi ini dengan senyum-senyum males kayak orang lagi nahan berak. Bu Ismahan berkata lagi, ‘Kamu pasti ingin punya anak 3 ya?’. Perkataan Bu Ismahan yang kali ini seperti menunjukkan bahwa si Hafli layaknya Ahmad Dhani. Kalo Ahmad Dhani punya Al, El, Doel. Kalo Hafli punya Na, Ni, Nu. Asal jangan di gabungin aja jadi Al El Doel PASUKAN NANINU. Mendengar ucapan Bu Ismahan ini, si Hafli langsung berkata dengan semangat perjuangan, ‘Nanti saya KB bu’.
Setelah kelas lama terdiam karena teriakan Hafli itu, Bu Ismahan berkicau lagi, ‘Hafli, kelak nanti yang bakal jadi cewek kamu, pasti dia tidak bahagia’. Jeng jeng jeng. Kicauan merdu pun keluar dari paruh Bu Ismahan. Gue langsung tertawa lebar-lebar. Gue seneng Bu Ismahan bilang begitu. Seluruh cewek yang ada di kelas termasuk cewek yang gue dan Hafli suka (serius ada) memandang Hafli dengan pandangan tidak wajar.
Dari perkataan Bu Ismahan tadi, gue mendapat 3 kesimpulan.
- Gak ada cewek yang mau sama Hafli
- Saingan gue buat dapetin cewek yang gue suka berkurang
- Gak lama dari kejadian ini, Hafli sudah menjadi cewek
Setelah kejadian yang sudah membuat Hafli malu sekaligus yang sudah menyadarkan kaum Hawa untuk tidak ke jalan yang sesat, Hafli berkata dengan penuh haru kepada gue. ‘Za, ada gak ya jurusan yang gak ada pelajaran sejarahnya?’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar