Gambar AvrilGambar AvrilGambar AvrilGambar AvrilGambar AvrilGambar AvrilGambar AvrilGambar AvrilGambar AvrilGambar AvrilGambar AvrilGambar Avril

Jumat, 29 Juli 2011

Prediksi Guru Sejarah

Adakah kesamaan antara guru sejarah dengan dukun. Oke, guru sejarah sama dukun itu memang berbeda, tapi untuk sekedar info, dukun gue ada yang mirip guru sejarah. Maksud gue guru sejarah gue ada yang mirip dukun. Yang gue maksud mirip bukan mirip secara fisik (serem,bau kemenyan,suka bawa-bawa kris) tapi mirip secara kekuatan.

Guru sejarah gue itu bernama Bu Ismahan. Dia perempuan (ya iyalah), mirip orang Arab (Putih,tinggi,hidung mancung). Menurut gue dia adalah salah satu guru paling modis di sekolah gue. Ya pasti taulah artinya modis, gue lagi males ngejelasin arti dari modis itu apa. Bukan karena gue gak tau, tapi pernah ada yang bilang ke gue kalo gue itu gak modis. Gue malah curhat kan jadinya. Oke kita ke inti permasalahan (permasalahan apa?)

Jadi, kenapa gue bilang Bu Ismahan mirip dukun. Begini ceritanya.

Waktu itu pas gue baru-baru masuk ke kelas 2 SMA. Berhubung gue masuk kelas IPA (ehm), jadi kelas gue ada pelajaran sejarahnya (IPS juga ada kali). Kelas gue ada pelajaran sejarah pada hari senin. Waktu baru pertama Bu Ismahan masuk ke kelas gue, dia langsung menyuruh seluruh murid yang ada di kelas gue untuk menggambar orang, rumah, dan pohon di kertas satu lembar. Gue juga sempet gak tau apa maksudnya menyuruh seluruh murid untuk menggambar orang, rumah, dan pohon. Mungkin dia terobsesi menjadi artis (gak nyambung).

Setelah seluruh murid sudah mengumpulkan kertas satu lembar itu kepada Bu Ismahan, Bu Ismahan langsung melihat dengan cermat satu per satu kertas yang sudah di kumpulkan seluruh murid. Saking cermatnya dia tau ada beberapa kertas yang belum di kasih nama. Ketika dia melihat kertas yang gak di beri nama itu, dia langsung teriak penuh arti ‘Hamba Allah’.

Dia mulai menyebutkan nama murid satu per satu sambil memegangi setumpuk kertas. Di sini lah kekuatan dukun yang gue bilang tadi mulai muncul. Orang pertama yang di sebut namanya itu adalah Hafli (kalo gak salah) temen duduk gue sekarang. Ketika Bu Ismahan melihat kertas milik Hafli, ekspresinya langsung bingung, matanya langsung jereng, tak lama kemudian Bu Ismahan langsung pingsan. Oke, dia gak pingsan, tapi dia langsung lemas melihat gambar yang di buat Hafli. Mungkin Hafli membuat gambar orang yang sedang berpacaran di rumah pohon, terus orang tersebut membuka bajunya, lalu… *sebagian teks hilang.

Setelah Bu Ismahan selesai berolahraga mata, dia langsung membuka mulutnya dan mulai mengeluarkan kata-kata.  Dan dia berkata, ‘Hafli, kamu itu terlihat banyak masalah’. Waw, dia bisa langsung tau dengan melihat gambarnya saja. Hafli menanggapi ini dengan senyum-senyum males kayak orang lagi nahan berak. Bu Ismahan berkata lagi, ‘Kamu pasti ingin punya anak 3 ya?’. Perkataan Bu Ismahan yang kali ini seperti menunjukkan bahwa si Hafli layaknya Ahmad Dhani. Kalo Ahmad Dhani punya Al, El, Doel. Kalo Hafli punya Na, Ni, Nu. Asal jangan di gabungin aja jadi Al El Doel PASUKAN NANINU. Mendengar ucapan Bu Ismahan ini, si Hafli langsung berkata dengan semangat perjuangan, ‘Nanti saya KB bu’.

Setelah kelas lama terdiam karena teriakan Hafli itu, Bu Ismahan berkicau lagi, ‘Hafli, kelak nanti yang bakal jadi cewek kamu, pasti dia tidak bahagia’. Jeng jeng jeng. Kicauan merdu pun keluar dari paruh Bu Ismahan. Gue langsung tertawa lebar-lebar. Gue seneng Bu Ismahan bilang begitu. Seluruh cewek yang ada di kelas termasuk cewek yang gue dan Hafli suka (serius ada) memandang Hafli dengan pandangan tidak wajar.

Dari perkataan Bu Ismahan tadi, gue mendapat 3 kesimpulan.

  1. Gak ada cewek yang mau sama Hafli
  2. Saingan gue buat dapetin cewek yang gue suka berkurang
  3. Gak lama dari kejadian ini, Hafli sudah menjadi cewek

Setelah kejadian yang sudah membuat Hafli malu sekaligus yang sudah menyadarkan kaum Hawa untuk tidak ke jalan yang sesat, Hafli berkata dengan penuh haru kepada gue. ‘Za, ada gak ya jurusan yang gak ada pelajaran sejarahnya?’.


Kamis, 21 Juli 2011

About My School

Setelah sebelumnya gue sudah menceritakan tentang kampung halaman gue, sekarang gue akan menceritakan tentang sekolah SMA gue. Yaitu SMA 30 Rawasari.

SMA 30 RAWASARI

Bagi gue, SMA 30 adalah sekolah yang tepat buat gue. Terutama karena dulu bokap gue sekitar tahun 80an (bukan pada zaman Jura. Bokap gue bukan Dinosaurus) pernah sekolah disana.

Selain karena dulu bokap gue pernah sekolah disana, letak SMA 30 juga sangat strategis. Sekolahnya deket jalan gede, jadi aksesnya gampang. Sekolahnya juga deket Rumah Makan Padang, jadi tiap kali gue mao makanan Padang, gue tinggal ke sana beli rendang (walaupun bakalan jarang gue ngiler masakan Padang, tapi lumayan lah buat nambah-nambahin alasan sekolah disana).

Pertama kali menginjakan kaki di SMA 30, gue seperti orang yang sedang tersesat di Negara orang. Di halaman sekolah yang di penuhi murid-murid baru, gue gak tau harus berbuat apa. Apakah gue harus menegor seseorang atau kenalan dengan seorang cewek, minta nomer HP nya, lalu gue ajakin kawin lari. Tapi gue baru sadar gue gak senekat itu (ralat: gue gak seberani itu).

Situasi tersebut di karenakan disana gak ada orang yang gue kenal. Murid dari SMP gue dulu yang masuk SMA 30 cuma 6 orang. 5 orang cewek lalu sisanya cowok, yaitu gue. Karena gue gak begitu deket dengan ke 5 biji cewek tersebut, gue sama sekali gak negor mereka di hari pertama gue jadi murid SMA.

Setelah menunggu lama, pengumuman pemilihan kelas pun telah di umumkan. Gue dapet di kelas… ehm, Sepuluh Lima.

Keesokan harinya, di hari kedua gue masuk sekolah, gue langsung masuk ke kelas Sepuluh Lima. Gue sekelas dengan 2 cewek temen SMP gue dulu, namanya Tiwi dan Tika. Eh tunggu dulu… kayaknya gue ketuker antara temen SMP gue dulu sama personil Titu. Pokoknya yang salah satu namanya Tiwi dan yang satunya lagi kalo gak salah namanya Anisa.

Di kelas Sepuluh Lima, orang pertama yang duduk dengan gue adalah sesosok Homo Sapiens yang bernama Ricko Radityo Kusuma.

Ricko Radityo Kusuma

Ricko orang Jawa, palanya botak. Maksud gue rambutnya yang botak. Dia kalo jalan tegak kayak manusia purba zaman dulu: bawa-bawa tongkat buat berburu terus suka pake kacamata hitam (ini manusia purba apa kakek-kakek preman tanah abang).

Yang gue suka sama Ricko adalah karena dia pendiam. Pendiam bukan berarti dia diam gak bergerak atau  bukan berarti dia diam tanpa kata kayak lagunya Kangen Band. Mungkin kalo keadaannya seperti itu, Ricko di sangka patung biksu yang ada di kuil-kuil. Tinggal di kasih baju biksu dan di cat warna biru muda, gue sudah bisa menyewakan Ricko ke kuil-kuil terdekat yang membutuhkan patung biksu.
Lebih detailnya lagi: Patung Biksu Jawa
Lebih detailnya lagi: Patung Biksu Jawa yang mirip Manusia Purba.

Gue suka sifat Ricko yang pendiem itu, karena gue orangnya juga pendiem. Semenjak itu, gue merasa sifat gue berdua saling mengisi satu sama lain. Gue suka ngemil kuaci, Ricko suka kulit kuaci. Gue sering nonton TV, Ricko hobi nyolong TV. Gue suka warna oren, Ricko mirip Alien (gak nyambung, tapi ini yang paling bener). Gue kalo pipis di toilet, Ricko di wastafel.


Di hari itu, gue sama Ricko deket banget. Gue sama Ricko sudah seperti kakak beradik. Bahkan sudah seperti abang dengan adiknya (apa bedanya). Tapi keesokan harinya di hari ketiga gue sekolah di SMA 30, Ricko gak duduk dengan gue lagi. Gue tanyain dia kenapa dia gak mao duduk dengan gue lagi, ternyata Ricko kesal sama gue karena 2 hal. Satu, karena gue bilang bahwa lagu yang berjudul ‘Diam tanpa kata’ itu lagunya Kangen Band. Ternyata setelah gue selidiki lagu itu bukan lagunya Kangen Band, tapi lagunya Demasip. Memang semua ini kesalahan Kangen Band, tapi gak apa apalah. Ini bukan karena gue ngefans sama Kangen Band lho ya, tapi gue gak tau Kangen Band itu yang mana. Dua, karena gue juga bilang bahwa patung biksu berwarna Biru Muda. Padahal itu kan memang benar adanya. Mungkin si Ricko gak suka warna Biru Muda (atau memang gue nya yang bego).

Setelah 15 menit meributkan tentang patung biksu ada yang berwarna biru muda atau nggak ada, gue dapet temen duduk baru. Orang kurang beruntung tersebut bernama Is Wahyu Nugroho.

Is Wahyu Nugroho

Ceritanya lanjut next time ya. Gue besok mau ulangan Matematika nih. Doain semoga gue bisa mengerjakan soal-soal nya. Amin. 
Oh iya masalah tentang Patung biksu itu sampe sekarang masih gue perbincangkan dengan Ricko lho. Tungguin aja hasil akhirnya, pasti gue yang menang. Hahahahaha


Jumat, 01 Juli 2011

Kampung Poncol tercinta


Bagi sebagian besar orang, kampung halaman menarik untuk diceritakan terutama kampung halaman sendiri (ya iyalah). Maka dari itu gue akan menceritakan tentang kampung halaman gue mulai dari kejadian sehari-hari, penduduk disana, dll. Kampung terserbut bernama 'Kampung Poncol'.


Kampung Poncol

Kampung Poncol terletak di pusat Jakarta, daerahnya lumayan luas, tapi lumayan padat juga. Disana juga banyak warung, sampe sampe kalau gue disuruh beli kalpanax sama nyokap, gue bingung mau beli di warung yang mana. Letak Poncol sangat strategis, dekat dengan pasar, jalanan, tempat kuliner, dan masih banyak lagi yang gak bisa gue sebutin.



PISS dulu ah

Korban banjir


Yang gue suka tinggal di Poncol yaitu anak-anaknya. Anak-anak disini sangat sangar ramah dan tamah. Terutama dengan anak yang bernama Dika.



Bocah kurang beruntung yang berumur 11 tahun itu sangat ramah. Saking ramahnya dia pernah bersih-bersih di rumah gue selama 1 minggu (lho?!). Dika berkulit hitam, rambutnya hitam (yang ini kayaknya udah dari lahir), dia biasa di panggil Buyung. Mungkin karena buyung nama orang tuanya, atau mungkin dia suka gigitin es batu (gak nyambung). Dika selain ramah dia juga rajin. Saking rajinnya kalau di suruh membeli sesuatu oleh anak-anak yang lain dia mau. Gue pernah menyuruh dia membeli Aqua gelas, tanpa banyak bertanya dia langsung membelikannya. Lihat seru kan. Di Kampung ini juga ada anak yang gak kalah terkenalnya. Anak itu bernama Deni.

Foto anak dibawah ini bernama Deni. Foto diambil saat gerhana matahari total.


Mana orangnya?


Deni biasa di panggil Garong, Gembel, atau Setaaaaan kalau dia lagi make masker neneknya. Garong (biasa dipanggil) berkulit sawo matang, berambut botak, dan baru baru ini dia sedang terkena penyakit Demam Afrika, yang diikuti gejala pipi menjadi bengkak seperti menyimpan baso didalam mulutnya, dan keluar beberapa ekor cicak dari dalam pantatnya. Oke yang soal cicak gue bercanda. Selain mempunyai penyakit yang aneh, dia juga sering melakukan hal-hal yang aneh seperti sikat gigi pake deodoran, nyoba-nyoba baju cewek, dia juga sering melakukan hal yang ekstrim seperti menelan batu, makan indomie sambil kayang, dan masih banyak lagi keanehan-keanehan yang ada dalam diri Garong.


Kelebihan yang dia miliki hanyalah dirinya yang kuat. Tetapi kekuatannya tidak bisa disamakan dengan Superman. Superman buka baju, dia langsung terbang ke atas. Garong buka baju, orang-orang disekitarnya yang beterbangan ke atas. Garong memang tidak sebanding dengan Superman, tetapi dia juga lumayan kuat.


Dia pernah jatuh dari ketinggian 5 meter, tetapi setelah jatuh dia langsung bangun kembali dan beraktifitas seperti biasa. Dia menganggap seperti tidak ada yang perlu ditakuti jatuh dari ketinggian 5 meter. Wow, amazing. Tapi setelah kejadian itu, dikabarkan paru parunya bergeser keselangkangan.


Di Kampung Poncol banyak kegiatan kegiatan yang tidak baik seperti tawuran antar warga, berjudi. Terutama berjudi.


Berjudi di Poncol layaknya lampu merah di jalanan. Sering dijumpai. Banci yang ada di lampu merah, gue anggap seperti orang yang bermain judi tersebut. Karena hal itu, gue jadi gak ada niat untuk bermain judi di Poncol. Gue gak mau disamakan seperti banci yang ada di lampu merah itu. Harga diri gue terlukai, walaupun gue gak punya harga diri.


Tawuran disini juga sering terjadi. Gue pernah beberapa kali ikut tawuran. Gue liat anak-anak Poncol didepan. Lalu anak-anak Tongkang (nama kampung sebrang, aneh sih.. kayak nama merek makanan anjing) lari berceceran kesana sini. Ada yang lari ke got, ada yang lari ke pot tanaman, ada yang lari bawa-bawa TV (belakangan diketahui kalo dia emang maling).


Masih banyak sih yang bisa gue ceritain tentang Kampung Halaman gue ini. Tapi berhubung gue mau nonton Jebakan Batman, jadi ceritanya udah dulu. PISS.


Rabu, 29 Juni 2011

Memulai Membuat Blog

Gue membuat blog ini dalam waktu 27 menit 48 detik, yang dibantu oleh seorang penjaga warnet terkenal (walaupun cuma terkenal di Zimbabwe) yaitu Afif Maulana.
Awalnya sih gue gak ada niat buat bikin blog, tapi setelah melihat blog yang dibuat oleh Afif Maulana, gue jadi pengen buat blog juga. Singkat cerita, setelah gue melontarkan 68 pertanyaan ke Afif Maulana, akhirnya blog ini jadi juga.
Maka dari itu gue ingin mengucapkan banyak terima kasih ke Afif Maulana, walaupun gue pernah sakit hati sama dia (lho?).